Tampilkan postingan dengan label SAJAK MINGGUAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SAJAK MINGGUAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Mei 2020

Azzah Dian



Sempat ingat kapan terakhir kalinya 
daun berguguran di jalan raya
Separuh aspal berubah berwarna kuning 
dan mendung membuatku tergopoh-gopoh
Berangkat dengan akal sehat dan pulang dengan harapan
Alangkah kasihan anak-anak 
disuruh meminta-minta di perempatan jalan

Itu lain hal,
Sekali lagi kutegaskan bahwa hari ini tidak hujan
Panas sekali, sampai-sampai legam lengan ini
Waktu memang sebentar lagi sore

Aku tiba ditempat yang hanya orang-orang pengku berkumpul
Menuturkan banyak sekali kisah
Mendoakan bibit tanaman hidroponik
Membiasakan meminum kopi yang bercampur es batu

Diantara tiga pemuda
Dan beribu kejenuhan
Aku duduk dengan jarak yang cukup jauh
Kami saling kenal, hanya kenal kulit bawang

Satu hal yang membuatku heran, Azzah
Gadis dengan follower instagram 2 ribuan
Berbaju hitam dengan kulit langsat
Duduk tenang dan menceritakan harinya

Matanya bak delima
Jaket kuningnya cukup kontras
Naik matik dan memakai sendal jepit
Baru lulus dan sedang memupuk cita-cita

Aku tak kenal, ingin mengenal pun tidak
Sayangnya ada satu keganjilan diantara matanya
Ia menceritakan bahwa iya sempat bertamu kerumah seseorang
Saat itu, pemilik rumahnya nyeletuk Anak’e sopo iki kok ayu

Ia penuh pesona
Mungkin karena ibunya cantik dan itu nurun ke anaknya
Walau ia tak suka menulis dan membaca
Itu wajar-wajar saja

Aku jadi membayangkan masa depannya
Memperkirakan jodohnya
Menerka-nerka kebiasaanya
Hingga mengikuti instagramnya

Rasa penasaranku tak begitu besar
Hanya sedikit menemukan keganjilan
Kadang tuhan maha adil
Sampai-sampai adilnya kelewatan

Azzah
Entah siapa nama panjangnya
Entah apa harapan orang tuanya
Entah bagaimana ia elok dan jelita
Entahlah

JBG, 23/MEI/2020

Semoga Saja


Berkumpulkah kita di belakang rumah
Bau usang bekas pakaian dan suara pompa air
Perlahan menuntunku dalam romantisme masalalu
Umpatan, pengakuan, dan harapan menyatu

Beberapa celetukan membuat kami tertawa
Bukan karena dalamnya pembicaraan
Mungkin karena terlalu jauhnya angan-angan
Hingga sedikit sekali rasa bersalah

Beberapa jam lagi takbir terdengar
Ini hari terakhir berpuasa
Banyak salah mungkin biasa
Kadang berpura jadi nikmat rasanya

Tumpul sudah mata tombak
Saat dilempar tak pernah kena sasaran
Banyak hal baik yang ku tolak
Bahkan seruan tuhan sering kulupakan

Alih-alih terlena dalam malam takbir
Semua malah terdiam dalam ketakutan
Wabah yang takkunjung hilang
Cukup membuat kejenuhan yang teramat dalam

Bukankah tuhan punya rencana
Bahkan penjual kopi dirumah ini
Lebih banyak senyum dikala pelanggan berkurang
Berapa lama semua akan berbohong

Gadis lugu dengan mata delima
Kembali menutup mulutnya
Sesaat lelaki disebelahnya menyulut api
Disitulah aku percaya bahwa apapun bisa terjadi

Sore itu
Dibelakang kontrakan kecil
Duduk sambil menikmati kopi
Diujung ramadhan

MJK, 23/MEI/2020

Yang Sama



Melakukan hal yang sama
Bertemu dengan orang yang sama

Memesan minuman yang sama
Duduk dikursi yang sama
Memandang ke arah yang sama

Berbicara tentang hal yang sama
Bertanya dengan pertanyaan yang sama
Ditanya oleh orang yang sama
Berkumpul dengan kelompok yang sama

Melewati jalanan yang sama
Merasakan momen yang sama
Bosan dengan alasan yang sama
Sama sama menantikan hal yang sama
berakhir di dunia yang sama

JBG, 19/MEI/2020


Syerahdeh


Kekesalan yang memuncak
Umpatan berputar-putar secara acak
Otak dipenuhi prasangka
Langkah demi langkah seakan sia-sia

Aku akan kembali mengembara
Bukan tuk memulai atau merubah segalanya
Hanya agar aku memahami
Semua yang terjadi sudah ditentukan
jauh sebelum aku mengetahui

Mudah sekali membenci
Terlalu cepat memaklumi
Semua hanya soal untung rugi
Mati bukan hal yang menakutkan lagi

JBG, 18/MEI/2020

Sabtu, 07 Juli 2018

Maaf & Memaafkan


Waktu itu kukubur dalam-dalam apapun
Kuhilangkan semua nama yang pernah ada
Tak ada yang kumaafkan dan tetap seperti itu
Mungkin itu tak baik, tapi biarkan begitu

Kembali kuingat pertanyaan itu
Aku yang ditelan habis olehmu
Seolah berhenti dan tak mengakuinya
Bahwa cerita ini selesai dengan diam

Masih saja ada sisa-sisa itu
Mencoba membangunkanku
Ditiap kesempatanku
Menghilang & lenyap oleh maaf

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 07 Juli 2018.

Rabu, 08 Maret 2017

Silsilah Salah Arah


Sejak musim sulit ditebak
Dan mitos selalu diabaikan
Adakalanya kita kembali mengingat
Bagaimana kita dilahirkan
Dibesarkan dengan ketidaksiapan
Hingga dijauhkan dari kebenaran

Hampir saja kita dibiarkan meraba
Segala kebohongan yang diyakini
Dan kesepakatan tanpa dasar
Yang senantiasa dipegang teguh
Begitulah cara kita dikembangbiakan
Oleh orang tua dan segala sisa-sisa kemunafikan

Sejak kisah-kisah perjuangan dibukukan
Sejarah tutur dalam berbagai versi diceritakan
Dalam otak kita mengendap banyak timbal
Hingga ingatan kita sering tak lancar karena menyumpal
Banyak dogma-dogma tentang kebajikan
Dan imbuhan-imbuhan metafora tentang harapan

Sepantasnya kita mempertanyakan
Apa pantas kita melanjutkan peran
Jika sejak dilahirkan kita tak murni
Mengidap penyakit lupa diri
Kadang kalap tak mau berlari
Hanya menunggu dan sembunyi

Perlahan-lahan kita ditunjukan
Bagaimana cara kita dilahirkan
Kitapun memaklumi
Semuanya memang terlanjur begini
Bukankah kita sudah biasa dengan itu
Meskipun kadang waktu semakin rapuh

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 07/03/2017.

Sabtu, 04 Maret 2017

Atas Nama Ambisi dan Obsesi Karbitan


Tiap pagi teriakannya begitu lantang
Pernah aku jengkel dan terharu olehnya
Rasa tanggung jawab berlapis kasih sayang
Membuat runtuh segala idealisme yang kupegang

Mengingatkanku tentang hal sederhana yang sering kita lupakan
Bukankah itu menjengkelkan
Disaat semua imaji serta impian
Lebih menggairahkan dibanding mensyukuri kenyataan

Entah apa aku punya kesempatan
Untuk mendahului takdir
Minimal mengetahuinya lebih dulu
Bedebah kurang ajar

Bukankah membangkang itu lebih mengasyikan
Dibanding taat dan menundukan kepala
Walau bakal sulit kaya dan kurus selamanya
Menolak realitas kadang terlalu melenakan

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 03/03/2017.

Rabu, 01 Maret 2017

Apa Yang Kita Lakukan Esok


Ada waktunya kita tak harus tidur
Menikmati nuansa malam dengan tenang
Menata semua hal yang berantakan
Kembali menjadi diri sendiri
Menemukan pilihan diatas tuntutan
Diantara rutinitas yang makin Buas

Sewaktu sisa air hujan menetes dari genting
Sesaat rimbun bambu tertiup angin
Sesekali aku teringat semua kenangan
Dan beberapa kesalahan yang terus berulang
Memang tak baik untuk kembali terlelap
Oleh rasa bersalah dan penyesalan

Aku tak bisa menebak nasib orang
Aku kira semuanya begitu
Tapi perkiraanku kadang salah
Perkiraan hanya perkiraan
Seperti harapan dan keinginan
Semua akan menuju satu pilihan

Kemanakah kita setelah ini
Lelap diatas tempat tidur
Berimajinasi diatas ketidakmampuan
Atau melanjutkan rutinitas yang tak tuntas
Menyalahkan kenyataan
Entah berapa kali kulakukan

Mengulang-ulang hal bodoh
Merencakan hal besar sampai gusar
Mempersiapkan sebuah pertunjukan
Menerka hari esok
Bukankah cukup menarik
Untuk seseorang yang bukan siapa-siapa

Apa yang kita pikirkan sebelum tidur
Apa hanya doa dan memupuk keinginan
Menambah harapan dan memperkirakan nasib
Atau menyesali yang telah lalu

Sebelum kita tertidur
Sebelum semua mulai kita sadari
Sebelum bangun dan mulai bernafas
Aku tidak berani menebak yang akan terjadi

Nofianto Puji imawan
Jombang, 28/02/2017.

Cita Tanpa Cinta


Hal terburuk apa yang pernah kita lupakan
Keindahan macam apa yang menjadi kenangan
Kasih sayang siapa yang meluluhkan kita
Atau kenyatan macam apa yang memaksa kita

Bertanya-tanya di tengah luapan amarah
Mengarungi samudra dunia hanya dengan pisau
Ia tak risau bahkan bergurau
Sedangkang tangannya gemetar
Dagunya terangkat keatas
Mengingat masalalu yang tak tuntas

Semua membekas dalam hati yang cadas
Tatapan itu sudah hilang ditelan gelombang
Apalagi yang tersisa dihati seorang manusia
Jika tinggal cita tanpa cinta

Ia menggamuk pada siapa
Teriakannya hilang perlahan
Purnama memanggil
Sayangnya ia berpaling

Sempat ia bercerita pada dirinya
Tentang kisah semesta dan romansa sementara
Ia bersama wanita bermata jingga
Yang sudah mengambil cinta dalam citanya

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 27/02/2017.

Senin, 02 Januari 2017

Menelaah Tahun Baru Dengan Jujur

Tak semua setuju merayakan tahun baru, tapi tak semua merasa perlu bahwa tahun baru itu harus dirayakan. Kalau versi anti-mainstream, tahun baru itu harus direnungkan. Sedangkan versi mainstreamnya, tahun baru itu wajib dirayakan. Lantas sintesis dari anti-mainstream dan mainstream merasa bahwa tahun baru itu perlu dirayakan dengan perenungan dan instropeksi serta resolusi perubahan diri untuk lebih baik dari sebelumnya. Pernyataan seperti itu terkadang sering kita dengarkan dari orang-orang sekitar kita, entah di rumah, warung kopi, cafe, kantor, sekolah, kampus, dan lain sebagainya. Bagaimana pendapatmu tentang perayaan malam pergantian tahun? atau yang biasa kita sebut sebagai tahun baru. Tapi kali ini saya tidak akan membahas mengenai perdebatan tentang apa perlunya merayakan tahun baru dan apa pentingnya harus dirayakan. Lantas, saya akan membahas mengenai bagaimana malam tahun baru yang pernah saya alami.

Saya pernah merayakan malam pergantian tahun sampai-sampai leher saya dipukul petugas kemanan bersenjata lengkap, saya pernah merayakan tahun baru dengan membuat rusuh satu pengajian di alun-alun Jombang sampai-sampai diamankan petugas DLAJJ, saya pernah merayakan tahun baru dengan memodifikasi motor kesayangan saya dengan memasang knalpot racing yang harganya 50 ribu sampai-sampai besoknya motor saya harus turun mesin, saya pernah merayakan tahun baru dengan mabuk-mabukan, saya pernah merayakan tahun baru dalam kamar sambil gelisah karena tidak boleh keluar sama orang tua, saya pernah merayakan malam tahun baru dengan nonton film dalam kamar sendirian, saya pernah merayakan malam tahun baru dengan numpang truk kemana-mana, pernah juga saya merayakan tahun baru dengan nonton konser dangdut sampai tawuran dan kecopetan hanphone, saya pernah merayakan tahun baru dengan teman-teman satu kampung di warung kopi pangku sampai subuh, saya pernah merayakan malam tahun baru dengan menangis di kamar, saya pernah merayakan tahun baru bersama gadis-gadis sewaan di lokalisasi (cuma menggoda saja), saya pernah merayakan malam tahun baru dengan aktivis-aktivis kampus yang idealisnya seolah-oleh berani mati, saya pernah merayakan malam tahun baru dengan tentara yang sedang berburu ditengah hutan, saya pernah merayakan malam tahun baru dengan kencan di kebun bersama anak satu desa, saya pernah merayakan tahun baru dengan balapan liar, hingga saya pernah merayakan malam tahun baru dengan tawuran, dan banyak hal aneh dan sangat bodoh yang pernah saya lakukan saat merayakan malam pergantian tahun atau yang biasa kita sebut sebagai malam tahun baru. Saya tidak menyesali hal itu, tapi saya juga tidak bangga. Realitasnya memang begitu. Mungkin tak hanya saya saja yang melakukan hal bodoh dalam merayakan malam pergantian tahun, ada puluhan mungkin juga ratusan orang yang melakukan hal aneh, lucu, bodoh, tidak berguna, bahkan tidak wajar. Tapi ada banyak orang yang memilih melakukan hal baik serta berguna sewaktu malam tahun baru. Seperti mengaji, tahlilan, pengajian, syukuran, puasa, dzikir, sholat, bertapa, berkunjung kekeluarganya menyambung silahturrahmi, membersihkan dan mendoakan keluarganya yang sudah meninggal di pemakaman, berkarya, dan lain sebagainya. Ini bukan soal bagaimana cara kita menyikapi malam pergantian tahun, tapi mencoba kembali mengingat bahwa pergantian tahun masehi ialah makin tuanya usia bumi, mahkluk, dan makin dekatnya pada kehancuran yang di namakan dengan kiamat.

Sewaktu malam pergantian tahun dari 2016 menuju 2017, saya banyak melakukan hal-hal tak berguna dan malam itu seoalah-olah saya mengingat semua kenangan saya dari mulai kecil hingga kini. Semua berjalan begitu cepat, perkembangan zaman, gegap-gempita euforia teknologi, besarnya arus informasi, bebalnya manusia, makin tak kenal siapa diri mereka, buruknya moral, kontelasi yang memilukan, konspirasi yang sungguh menjebak, makin pendeknya umur manusia, eksploitasi besar-besaran, keserakahan tak henti, dan krisis eksistensi yang kurang ajar.

Semua berjalan beriring-iringan dengan antonimnya masing-masing. Sedangkan saya duduk di depan rumah dengan memandang semua orang sedang menyalakan sound dan memutar musik dangdut dengan keras di hampir perempatan dusun saya. Ibu saya yang sibuk mengupas rempah-rempah, ayah saya selalu duduk diam sambil memandang lalu-lalang anak kecil yang bermain, adik-adik saya yang menghabiskan waktu di depan layar handphone dan playstation. Mereka selalu begitu setiap tahun, kecuali adik-adik saya. Bagi kedua orang tua saya, tak ada yang menarik kecuali melihat anak-anak mereka nurut kepada mereka dan taat ibadahnya. Kadang kalah kita terlalu gelisah dengan pencapaian dan selalu melupakan kesederhanaan hidup dan tujuan utama kita.

Berkumpul bersama, memasak dan memanggang sate, memutar musik sekeras-kerasnya, berkaraoke, berkeliling kampung dengan motor yang bunyi knalpotnya seperti senapan laras panjang otomatis berkaliber 45, menghias rumah dengan lampu-lampu warna-warni, mabuk-mabukan, makan bersama, berbagi cerita mengenai pekerjaan mereka di perantauan masing-masing, menceritakan hal-hal lucu dan seram, memborong petasan dan kembang api hingga menghabiskan berjuta-juta, dan itulah dusunku. Bisa dikatakan setiap tahun beberapa hal diatas selalu dilakukan untuk merayakan malam pergantian tahun. Terganggung atau tidak?, jelas tidak. Karena semua sudah diatur, kita tinggal ikuti arah dan menjalani peran masing-masing sesuai dengan kehendak, lalu mati dan tanggung jawab serta di adili.

Saya pernah berbicara setinggi langit dengan banyak orang, dan saya menyesal karena tak pernah menjadi pendengar yang baik. Mungkin adakalanya kita biarkan saja diri kita terhanyut dan tenggelam di masa-masa yang suram. Mugkin dengan cara seperti itu kita bakal lebih mengerti dan merasakan sebuah kesadaran. Buku-buku masih menumpuk dikamar, baunya busuk. Semua yang di butuhkan sudah lengkap, semua yang di inginkan makin menggunung. Menunggu apalagi, habis pertanyaan timbul pernyataan. Zona nyaman mulai mengancam, apalagi yang ditunggu, ingin melakukan apa, mau jadi apa, tujuanmu apa, dulu niatmu bagaimana, pernahkah sekali memikirkan hal itu. Setiap hari saya memikirkan hal itu. Sambil menjalani rutinitas yang harus diselsaikan.
Lantas

Aku sering membual dan aku menyesal
Aku sering berbohong dan masih ku ulangi
Aku sering sombong dan nyatanya masih kulakukan
Aku sering oportunis sampai-sampai aku begitu selektif
Aku sering menyadari semua itu dan aku belum sadar

Ini bukanlah keinginan tapi ini mungkin sebuah kelakuan
Sedangkan semua masih berjalan sebagaimana mestinya
Ada atau tidak adanya aku, semua bakal tetap berjalan
Apa sebenarnya yang harus kulakukan

Menjalani peran sebagai seoarang anak
Menjadi manusia yang benar-benar manusia
Komitmen dan lebih taat sebagai khalifah di bumi
Menjadi muslim yang bernar-benar muslim dan bukan muslim-musiman
Berandai-andai sampai tua
Bermimpi sampai takbangun lagi
Terlelap sampai kalap
Maukah seperti itu

Sadar sampai bosan
Menunggu hidayah sambil berzinah
Sungguh munafik
Dan bagaimana selanjutnya

Haruskah demikian
Bertanya lalu menjawabnya
Teriak dan makin tersiksa
Atau bunuh diri dan hidup kembali

Nofianto Puji Imawan

Jombang, 01 Januari 2017.

Kamis, 29 Desember 2016

Di Bawah Payung Hitam Ku Berlindung


(Terinspirasi dari lagu yang awalnya “yang hujan turun lagi, dibawah payung hitam ku berlindung....hehehehe)

Bocah-bocah mulai lumrah dengan rokok
Walaupun kini sudah banyak yang memakai vapor
Pemuda-pemudi begitu rindu akan sex bebas
Sampai-sampai minimarket sering kehabisan stok kondom

Kecewa serta pelarian dibuat alasan
Yang dilarang kenapa selalu menyenangkan
Peraturan dibuat untuk dilanggar
Kadang semua perlu penyeimbang

Ah

Ada yang baik sedikit, dan yang tidak makin membukit
Kejujuran setidaknya mulai tumbuh, kebohongan malah kabuh
Kesadaran kian bertambah, munafik tambah melejit
Budaya hemat sudah ditanamkan, tapi pemborosan lebih keliahatan

Kata kotor lumrah diucapkan, katanya cirikhas daerah lokal
Buang sampah sembarang sudah berkurang, malah sampahnya di sembunyikan
Katanya sadar dan tau peran, lihat itu sepertinya masih ingin dapat banyak uang
Korupsi sedikit demi sedikit di tuntaskan, nyatanya masih kecolongan

Kesetian diutamakan, ternyata banyak janda masuk koran
Sering kunjungan ke pengajian, tapi masih bohongi teman
Ingin berbeda dari yang lainnya, malah ikut-ikutan gayanya
Ingin kaya dan terkenal, sama diri sendiri saja tak kenal

Aduh

Kapan ada waktu kita ketemuan
Tiga kali lebaran tak kunjung kasih kabar
Nanti kubayar setelah gajian
Malah kabur bawa uang perusahaan

Dasar

Munafik ?, oh tidak
Hipokrit ?, jelas bukan
Realistis ?, tipis sih
Manusiawi ?, mendekati
Kompromis ?, boleh juga
Idealis ?, tidak sama sekali
Selektif ?, sangat
Perhitungan ?, wajib itu
Bajingan ?, tidak dong
Saudara ?, so pastilah

Ini pasti bener?

Pemuda-pemudi Indonesia. Benar sekali

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 29 Desember 2016.

Iman Tak Sekadar Percaya


Sudahkah aku mencaritau siapa diri kita
Sudakah kita tau apa tujuan kita
Sudahkah kita yakin dengan keyakinan kita
Benarkah kita punya pilihan dalam hidup
Berapa persen yang kita ketahui dan yang tidak
Lalu pantaskah kita menyombongkan diri

Diantara air yang menghantam dan perempuan yang dirindukan
Aku duduk untuk kembali menenangkan pikiran yang terlalu liar
Sengaja untuk diam dan membuang semua kekeliruan
Kembali meluruskan niat dan mencoba menyelsaikan ujian
Saat datang hujan, maka tak segan malam menelan
Menenangkan pria-pria ditengah buaian lirik lagu kasih sayang
Sembari menelan perempuan-perempuan yang lupa kodrat alam

Sayangnya semua akan kembali hilang
Keraguan, pilihan, keyakinan, cara pandang, nikmat tuhan
Segala sesuatu yang nyata bakal dikubur dan hancur
Seperti kisah akhir jaman yang penuh penghakiman
Dan seluruh kitab akan bersaksi
Ditengah puluhan matahari

Lagi-lagi aku membual
Pertanyaan berbalut keresahan
Kemarahan yang dipendam
Kasih sayang yang dipalsukan
Gumam dendam diantara iman
Keyakinan yang meragukan
Sampai tak ada pilihan
Selain kembali meluruskan iman

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 29 Desember 2016.

Jumat, 02 Desember 2016

Hiprokrit Elektrik



Menenun kenangan diatas angan
Ia berkata kalau hujan datang tanpa lisan
Sebentar lagi kau akan merasakan
Setetes demi setetes air diatas pelipis

Terenyuh dan tiba-tiba tersadar
Matahari dan hingar-bingar hanyalah cadar
Menutupi semua keindahan
Layaknya angan-angan dikala malam

Aku membuta untuk mengerti
Hal terkecil yang sering dianggap kerikil
Kau seringkali bertanya
Seberapa kecil kita diantara semesta

Kuharap kau menerima
Runyamnya rasa
Gelisah, tak tau ingin apa
Selama belum sadar jua
Akan indahnya dunia

Selama resah
Kau seolah manusia
Pencerna realita
Mengulang kesalahan takberarti
Mengingkari suara hati
Setiap kali hingga mati

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 01 Desember 2016.

Kamis, 01 Desember 2016

Semusim Bersama Pemuda Pemudi Penyakitan


Kenyamanan bersanding dengan gegabahnya angin
Menepuk pundak dan mendobrak ingin
Kemana lagi malam akan berpaling
Hanya sekali aku tersadar

Beribu nasihat dari ia yang kesal
Tumpah-ruah hujatan kutelan habis
Aku masih nyaman dan takmau keluar
Sekumpulan srigala meninabobokan takdir
Memalingkan keseharusan untuk sejenak berkata

“ini kenyataan, bukan dunia utopis dambaan pemuda penyakitan”

24 jam terasa sebentar dan tak cukup mengantar
Semua keihklasan mempersiapkan masa depan
Hanya dengan duduk dan mengobrolkan kemunafikan
Menghakimi moral tak berakal
Mengidam-idamkan dunia impian
Dari akal-akal yang diupayakan masuk akal

Setiap detik mereka dikejar pencapaian
Godaan mereka ialah keinginan mereka yang terdalam
Mengupayakan nasib agar berpihak dan tak segan memberika kenyamanan
Tak sadarkah mereka kalau rasa nyaman sudah ditangan

Kemauan kelam dihapus dengan hitam yang tersamar
Ungkapan langit tiap detik terlontar dan dipegang

“hey, aku punya pedang dan kau hanya setebal leher ayam”

Padahal setiap pembicaraan mereka
Bakal berhenti pada tindakan karbitan
Yang sekali memuncak setelah hilang dihirau kepuasan

Antara kemunafikan atau ketuntasan berkehidupan
Disaat kesampatan tak diimbangi dengan kemampuan
Dimana kekuatan dimanfaatkan seolah kelemahan
Dikaruniai kesadaran tapi dengan efek samping kemunafikan

Sesungguhnya tiga tahun belakangan ini, untuk apa
Benarkah takdir membawaku kedalam sumur kering
Atau justru menenggelamkanku pada samudra lumpur

“aku tak menyesal dan aku sadar akan semua pesan-pesan tuhan”

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 01 Desember 2016.

Adakalahnya Semua Harus dibiarkan Saja


Bayangkan senja datang dengan gegabah
Burung-burung walet terbang membentuk sumur
Mata-mata tetua desa mulai menerka
Akankah ada badai atau hujan murka

Bagai musim, semua ada maksud dan tanda
Ilmu-ilmu tak ilmiah diantah anta-berantah
Keraguan akan sebuah pembuktian memang sulit menyakinkan
Untuk menyakinkan saja, perlu depat tilap-telaah
Apalagi membiarkan semua tetap tak ilmiah

Membiarkan yang tak ilmiah
Menyakini atau menolaknya
Entah percaya atau membantah
Tapi ilmu ini lama diterima
Percaya atau tidak, tapi ini nyata
“padat wibawa, syarat umpamaPenuh metafora berbalut gairahMencoba mengolah hikmah dan hidayahMenjadi telaah, pasti ada maksud dan pesanKenapa kita memakai umpama atau ilmu-raya”

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 01 Desember 2016.

Jangan Kaget Kalau Ditinggalkan


Apa yang kau banyangkan, jika terbagung ditengah petang
Dengan bekas jejak yang meninggalkanmu
Semua terasa kosong dan menyadarkan
Semua hal, tapi menyakinkan bahwa kita sendirian
Dan akan sendirian

Kabar malam mulai menagih pulang
Kesadaran mulai membutuhka perhatian lebih
Harapan kecil mulai dikesampingkan
Kewajiban seolah memukul untuk dikerjakan
Andai semua hal dapat di anak tirikan
Mungkin aku lebih sering mendua

Bagaimana mungkin bayangan lahir
Dan membunuh kenyataan dengan metafora
Membuat semua kabar burung
Menjadi berhala-berhala musiman

Aku tak ingin melukai takdir
Tapi aku jago mengakali diri-sendiri
Sungguh runyamnya akal sehatku
Bahkan sampai tertipu syahduh

Malam memang kelam
Saat aku mulai bersaing pembuktian
Manusia lebih sering menimang angan
Daripada menyadari peran masing-masing

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 01 Desemeber 2016.

Ingkarilah Kenyataan

Perahu mulai menepi
Badai sebentar lalu pergi
Sering sekali, dan aku tak memahami
Apa rumus waktu perlu dikelabuhi

Baru-baru ini ada rawa tak berpenghuni
Tak hijau namun penuh kabut putih
Tenang aku hanya mengarang
Jangan berang, kan ini hanya terkaan

Berbohong
Bukankah semua suka berbohong
Lihat, rasakan berapa kebohongan
Yang kita produksi dan kita konsumsi
Sampai bersama-sama kita amini

Kebohongan, berbohong, membohongi, dibohongi
Dan kita hidup damai dengan itu
Ingat ini

“Berbohong jika tak bohong”

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 01 Desember 2016.

Kamis, 17 November 2016

Teruslah

Memandang jauh jalan
Seakan perlu bersabar
Tergesah namun pelan
Seperti menerima masa depan

Melupa serta menimang
Kunang-kunang diladang
Mulai menghilang
Begitu persis seperti kenangan

Terus menggerus
Ambisius hingga haus
Panas-panas sangat ganas
Perlulah kita bergegas

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 07/09/2016.