Tampilkan postingan dengan label RESENSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RESENSI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2016

Teknik Menulis Resensi Buku


Dalam media massa, entah itu surat kabar atau pun majalah, resensi sering diistilahkan bedah buku, timbangan buku, atau kajian buku. Resensi itu sendiri merupakan suatu tulisan yang bertujuan untuk memberikan pertimbangan atau penilaian tentang suatu buku yang baru diterbitkan kepada pembaca. Melalui resensi tersebut, para pembaca bisa mendapatkan suatu informasi, penting atau tidaknya suatu buku. Layak atau tidaknya dibaca untuk pembaca.

Seorang penulis resensi atau biasa disebut resentator akan memberi pertimbangan kepada pembaca secara seimbang, baik kelebihan maupun kekurangan suatu buku yang diresensinya. Saya mencoba membagikan informasi yang penting khusus bagi saya, umumnya bagi sahabat semua, bagaimana menulis resensi buku secara pemula. Referensi dari buku yang berjudul “Belajar Efektif Bahasa Indonesia” terbitan Intimedia.
Berikut Menulis Resensi Buku:

1. Cari dan tentukan buku baru nonfiksi yang akan kita resensi.

2. Catatlah identitas buku yang akan kita resensi, seperti jenis buku, judul buku, nama pengarang, nama penerbit, tahun terbit, tahun cetak, jumlah halaman, jenis kertas dan harga buku.

3. Catat dan pahami tujuan dan latar belakang penulisan buku, dengan cara membaca kata pengantar atau pendahuluan buku.

4. Apa tema atau inti isi buku?

5. Apa yang ingin disampaikan pengarang melalui bukunya? Pada bagian ini, kita dapat menyampaikannya menjadi ikhtisar buku.

4. Buatlah daftar pokok-pokok isi buku secara keseluruhan.

5. Tentukan kelebihan dan kekurangan isi buku, dengan memperhatikan hal-hal berikut:

a) Apakah ide-ide pokok yang diuraikan sesuai dengan tujuan penulisan buku?
b) Apakah pengungkapan ide-ide pokok dalam buku tersebut tersusun secara sistematik?
c) Apakah antara bagian satu dengan bagian lainnya tersusun secara harmonis?
d) Apakah bahasa yang digunakan penulis mudah dipahami? (pilihan kata, struktur kalimatnya, gaya bahasanya, dan lain-lain).

6. Reproduksi hasil catatan kita dalam bentuk tulisan resensi dengan menggunakan bahasa kita sendiri secara runtut dan jelas, dengan memperhatikan penulisan tanda baca yang benar.

7. Pada akhir resensi berilah saran dan kesimpulan, apakah buku yang kita resensi tersebut layak dibaca atau tidak.

Saran dan apa yang saya tulis mengenai artikel ini, semoga bisa menjadi berguna dan bermanfaat.

Jumat, 22 Juli 2016

Anak Semua Bangsa Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer


http://akusukamenulis.files.wordpress.com/2011/01/anak-semua-bangsa.jpg

Buku ini bercerita, sejauh yang saya tahu, tentang seorang sosok pribumi (Minke) yang sebelumnya telah dididik dengan pendidikan Belanda melihat sendiri kehidupan masyarakatnya yang saat itu tidak berdaya-upaya melawan kekuatan Eropa. Di sini Minke dihadapkan pada situasi yang dilematis. Satu sisi ia melihat betapa peradaban Eropa begitu tingginya dan membuatnya dapat berkembang menjadi manusia yang berkualitas. 

Anak Semua Bangsa merupakan buku kedua dari tetralogi Buru. Sama seperti buku pertama, buku ini ditulis Mas Pram saat meringkuk di penjara Pulau Buru. Naskah ini pun ia share dan bacakan kepada mereka yang dipenjara.

Di sisi lain, ia melihat masyarakat pribumi begitu mengibakan dan kerdil di hadapan sistem dan hukum Negeri Penjajah. Suatu hal yang sangat disayangkan dan tentunya tak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini.

Sebelumnya memang ada perbedaan pandangan antara Minke dengan kawan-kawan hidupnya—Kommer, Jean Marais, Bunda Minke, dan Mama (Nyai Ontosoroh)—tentang kehidupannya dan kehidupan pribumi baginya. Minke merasa bahwa orang-orang Pribumi kecil itu tak pantas diajak berbicara soal Hindia dan tak dapat merasai negerinya—karena bodoh, tak bersekolah, tak dapat berhitung dengan baik, serta keterbelakangan yang tak pernah mereka dan Minke harapkan. Sedang menurut Kommer dan kawan-kawan hidupnya yang lain, adanya berita bertuliskan Jawa, Melayu, dan bahasa-bahasa Pribumi di Hindiamenandai bahwa kepedulian Minke terhadap bangsanya sungguh mencuat [ganti kata mencuat ini].

Yang ingin segera saya garis bawahi di sini adalah setiap kekalutan dan ketakutan yang dirasa oleh pribumi merupakan ketakutan setiap manusia yang ada di dunia, bukan saja di Hindia. Bahwa Kolonial terlalu pengecut meneror Pribumi dari masa ke masa sehingga dalam alam bawah sadar mereka terpatri kuat: Bangsa Kulit Putih lebih terhormat dan lebih berjaya ketimbang pribumi sendiri di tanahnya. Ini sungguh mengibakan.
Eropa memang lebih unggul dari Hindia, tapi tidak di segala hal. Jangan agungkan mereka seperti dewa.
Politik Etis adalah politik balas budi yang ditetapkan Belanda terhadap Hindia. Ini dilakukan untuk memberikan suatu balas-jasa atas segala tindak-penjajahan Kompeni sehingga Hindia tidak hanya menjadi daerah yang “habis manis sepah dibuang” tetapi menjadi daerah jajahan yang maju dan hebat [ganti nih kata hebat di sini, ga keren]. 3 program politik ini pun dibuat: Edukasi, Emigrasi, dan Migrasi. Edukasi adalah program pendidikan kepada penduduk pribumi agar pandai dan bisa bersekolah layaknya orang-orang Indo, Peranakan, atau Totok. Emigrasi adalah program yang mengajak warga di wilayah padat penduduk untuk bertransmigrasi ke wilayah yang masih tidak padat penduduknya. Sedangkan Irigasi adalah program pengairan untuk keperluan pertanian tiap penduduk yang memiliki/mengolah lahan pertanian.

Program yang sangat bagus dan membangun. Namun rupanya ada udang di balik batu. Program-program ini sesungguhnya adalah proyek terselubung pihak Belanda untuk terus mengeruk keuntungan dalam kesempatan yang lebih besar. Kebijakan-kebijakan yang awalnya diajukan oleh van Deventer tersebut memang terlihat sangat baik dan menawan hati. Tapi pada

hakikatnya program ini adalah mengenai kepentingan gula.
Secara garis besarnya, program terselubung ini sudah dapat ditebak. Mengingat Jawa sebagian besar memiliki tanah yang subur dan lahan pertanian yang luas. Selain itu, kebijakan Pemerintah Belanda saat itu menitikberatkan pada ketersediaan gula, yang mana sangat bernilai harganya di mata Eropa pada saat itu. Praktis petani gula adalah profesi yang sangat populer di kalangan para petani.

Dalam kenyataannya, ketiga program itu tidaklah berjalan semestinya (sudah dapat diduga!). Program Edukasi yang katanya bakal mendidik pribumi nyatanya hanya seputar baca-tulis & hitung-menghitung, yang mana justru bertendensi dan menjurus kepada apa-apa yang terkait dengan administrasi produksi gula.

Begitu pun dengan Emigrasi. Program pemerataan penduduk ini, yang seharusnya mengajak warga di wilayah padat penduduk untuk pindah ke daerah yang tidak padat, justru dipaksa untuk pindah ke daerah yang memiliki lahan pertanian gula. Mungkin takkan menjadi masalah jika hasil kerjanya sesuai dengan upah. Ketidakadilan ini memang kekejian yang tak terlihat oleh pribumi yang tak melihat langsung turun ke arus-bawah. Tidak jauh berbeda dengan kedua program tadi, Imigrasi yang digadang-gadang untuk mengairi lahan pertanian pribumi justru dimonopoli (lagi-lagi) untuk kepentingan gula. Pengairan tersebut sesungguhnya memang untuk pertanian gula dan tebu sahaja. Dan yang bikin tambah ngenes, hasil pertanian itu sebagian besarnya masuk ke kantong Pemerintah Penjajah.

Setelah melihat sendiri kehidupan petani gula dan tebu di Tulangan Sidoarjo kesadaran Minke pun tersentak. Ketidakadilan yang begitu kentara (jika saja ia punya niatan dan sedikit usaha untuk melihatnya) tenyata membikin kehidupan pribumi begitu sengsara. Hati nurani dan nasionalismenya pun tergugat, tergurah, dan tergugah untuk menyelesaikan kecurangan ini. Ia tersadar akan satu hal, bahwa ia adalah bayi semua bangsa dari segala jaman yang harus menulis dalam bahasa bangsanya (Melayu) dan berbuat untuk manusia-manusia bangsanya.

Deskripsi Mas Pram terhadap sejarah adalah deskripsi yang asosiatif, imajinatif. Kalimat-kalimat yang beragitasi sebagai stimulan nasionalisme itu bahkan sungguh deras bak terjunan air niagara yang tak ada habisnya. Saya melihat Mas Pram jujur dalam menulis dan merangkai ceritera yang

mengangkat sejarah di awal-awal Kebangkitan Nasional ini.
Saya tidak ingin terjebak dalam romantisme sejarah yang kabur dan membingungkan. Meski anggota Lekra (yang telah di-judge bersalah karena bagian dari Partai Komunis Indonesia), Mas Pram saya lihat sebagai sosok anak bangsa Indonesia yang menginginkan negerinya bebas dari jeratan penjajahan yang ada, baik yang berupa sistem atau yang berwujud yang lainnya. Ia manusia berpikiran merdeka yang ingin melihat semua ini berakhir. Bahwa Indonesia merdeka seutuhnya adalah harga mati baginya! Bagi rakyat Indonesia, bagi bangsa Indonesia!
“Kita sudah melawannya nak, Nyo! Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya” Nyai Ontosoroh.

Sekali Peristiwa Di Banten Selatan Pramoedya Ananta toer

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUbFlw8ATCyVFfPbr93iUY_PbQb9xUSX1ER7j0TYuWF8BidZIW4cJKvZuhe6GIdEFKRCxW8IxMVLMIv47hm09ByZEownfXFeul13JeY2xScVh_bxku_gi3MPpGiVwKiKkfgBOWMZXDAtc/s1600/banten+selatan.JPG
(novel pram by : nofi)
Barangkali disebabkan kecenderungan politik dan ideologinya, serta plot yang cenderung didaktis (bersifat mendidik), novel "Sekali Peristiwa di Banten Selatan" sering dikesampingkan para pengamat karya Pramoedya Ananta Toer, jika tidak dianggap karyanya yang paling tidak berhasil.

A. Teeuw dalam Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer, hanya membahas novel ini dalam sub bab pendek dibandingkan bahasan atas karya Pramoedya yang lain. A. Teeuw, misalnya menulis: “Watak-watak semuanya digambar dengan warna hitam-putih, latarnya sangat konvensional.” Benar bahwa karakter di novel ini tidak penuh warna sebagaimana kita temukan dalam novel-novel puncak Pramoedya, tapi mengatakannya sebagai hitam-putih tentu penyederhanaan berlebihan. Tokoh Juragan Musa, sang antagonis, bisa menjadi contoh yang menarik.

Di satu sisi, Pramoedya menggambarkan tokoh ini dengan cara begini:

“Juragan Musa masih tetap memunggungi pintu, seakan-akan Ireng tiada berharga bagi matanya. Ia berdiri tegak tak bergerak-gerak sedang matanya meninjau langit, seakan-akan dari langit itu akan turun segala yang diharapkannya.”

Di sisi lain, Pramoedya menulis tokoh yang sama:


“Segera Juragan Musa menatap isterinya dan bertanya://Kau mau mengikuti aku dalam senang dan sengsara, bukan, Nah?//Kau sendiri dengar bagaimana janji nikahku. Cuma soalnya, bagaimana yang sana?//Biar aku ceraikan.//Nyonya menatap suaminya dengan kasihsayangnya.//Aku dalam kesulitan, Nah.//Nyonya tersenyum tak percaya. Tetapi Juragan Musa meneruskan dengan keterangannya://Benar, Nah. Maafkan segala kata-kata yang telanjur tadi.”

Dalam kutipan pertama, kita melihat satu tokoh yang angkuh dan kerap memandang rendah orang lain. Dalam kutipan kedua, tokoh yang sama sekonyong-konyong tampil memelas dan tanpa daya. Memang dalam konteks kutipan pertama, tokoh ini bisa kita anggapkan sebagai orang yang keangkuhannya bersifat hipoktrit (munafik). Pada dasarnya ia seorang pengecut bernyali kecil. Tapi pada konteks kutipan kedua, permohonan maaf yang diajukan kepada istrinya, ia katakan dengan tulus dan mengiba. Penuh kejujuran.

Ini hanya satu contoh mengenai karakter yang bergerak, sama sekali tidak mengindikasikan antagonisme yang tanpa cela.
Naskah panggung

Anggapan hitam-putih ini memang menjadi wajar mengingat bentuk novel tersebut. Di sini ada kesan penulis menghindar untuk menyelami kedalaman jiwa karakter-karakternya. Tak ada arus kesadaran, misalnya. Bahkan tak ada alur maju dan alur mundur, untuk memperlihatkan latar belakang masing-masing tokoh. Novel ini hadir begitu saja, dengan tokoh-tokoh yang hidup di masa itu, tanpa keterangan tambahan kecuali apa pun yang bisa dilihat saat peristiwa di dalam cerita terjadi.

Sesungguhnya hal ini mesti segera disadari oleh setiap pembaca novel ini. Pramoedya sendiri sudah memberi sejenis bocoran untuk memahami bentuk novel ini dalam pengantar yang mengawalinya: “Cerita yang kutulis sekali ini merupakan cerita bacaan, tetapi di samping itu dapat pula dipentaskan di atas panggung.”

Jika kita segera menelusuri halaman demi halamannya, kita segera akan menyadari, ini memang naskah panggung, yang ditulis sedemikian rupa sehingga tidak tampak seperti naskah panggung, namun menjadi semacam cerita bacaan. Tapi bagaimanapun, Sekali Peristiwa di Banten Selatan, bagi saya, tetaplah sebuah naskah panggung. Melihatnya sebagai sebuah novel dalam bentuknya yang konvensional, dengan segala peluang-peluang yang dimilikinya, merupakan ketersesatan awal yang akan sangat mengganggu.

Demikianlah, daripada memberi gambaran tokoh-tokohnya dengan karakter yang bulat, sebagaimana bisa kita jumpai dalam kebanyakan novel Pramoedya, baik sebelum maupun sesudah "Sekali Peristiwa di Banten Selatan", novel ini malahan memberi kesan agar karakter-karakter tokoh ini dihidupkan oleh para aktor. Kita hanya memperoleh deskripsi mengenai latar, tindakan tokoh-tokohnya, dan tentu saja dialog di antara mereka. Bahkan tokoh-tokoh ini kadangkala tak bernama, hanya gambaran kasat mata yang meminta penafsiran untuk panggung, seperti Komandan, Nyonya, Yang Pertama, dan Yang Kedua.

Begitu pula latar yang disebut A. Teeuw sebagai “sangat konvensional”, harus dipahami juga sebagai latar untuk pementasan. Indikasi ini jauh lebih kuat lagi dalam novel ini. Dibagi dalam empat bab, kita segera akan menyadari itu juga merupakan pembabakan. 

Bab pertama, latarnya berada di depan rumah Ranta. Bab kedua, ruang tamu Juragan Musa. 

Bab ketiga, masih di ruang tamu Juragan Musa, namun di waktu yang lebih kemudian. 

Bab terakhir, “terjadi di sebuah halaman sekolah rakyat yang baru dibangun, di sebuah pojokan di bawah pepohonan yang rindang.”

Indikasi panggung ini kadang demikian mencolok sehingga tak mungkin pembaca luput karenanya. Lihat deskripsi "bab kedua", yang tampaknya lebih tepat dikatakan sebagai instruksi kepada sutradara, atau penata artistik panggung:

“Ruang tamu lebar yang terangbenderang. Sepasang sice tua setengah antik yang terpelihara baik terpasang di dekat dinding. Sebuah lemari pajangan berisikan berbagai macam barang pecah-belah tersusun dengan rapi terletak di dekat sice ….”

Akan tetapi, latar ini, jika diperhatikan lebih seksama, segera memperlihatkan perbedaan dengan latar panggung umumnya. Novel ini menyiratkan suatu adegan yang dipentaskan di tempat sesungguhnya, bukan di panggung. Ada suatu dorongan untuk membuatnya menjadi nyata, atau realis.

Dengan cara inilah novel "Sekali Peristiwa di Banten Selatan", sejak awal menuntut untuk dilihat dengan cara yang berbeda. Pada bentuknya, ia memperlihatkan sejenis ambiguitas yang meminta perhatian lebih: di satu sisi ia menampilkan dirinya sebagai novel, namun di sisi lain ia membatasi dirinya sebagai naskah pentas, yang membutuhkan para aktor untuk menghidupkannya. Di satu sisi ia naskah panggung yang penuh kesan artifisial, namun di sisi lain ia mencoba menggambarkan latarnya dengan cara yang lebih hidup, realis, penggambaran dunia yang sesungguhnya.
Sudut pandang ideologi

Masih dalam buku Citra Manusia Indonesia, A. Teeuw kembali memberi komentar atas novel ini: “Seni di sini memang terdesak oleh ideologi.” Lantas, bagaimana posisi novel ini sendiri jika dilihat dari sudut pandang realisme sosialis – suatu paham yang tampaknya mulai dipersiapkan Pramoedya untuk diterapkan sejak ditulisnya novel ini, atau dengan kata lain, ideologi yang hendak diusung sang novel? Jika memang “seni terdesak oleh ideologi”, bukankah lebih adil untuk membedah novel ini dari sudut pandang ideologi yang bersangkutan?

Menurut Pramoedya dalam Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia, realisme sosialis adalah “pempraktikan sosialisme di bidang kreasi-sastra.” Maka, novel ini harus dilihat sebagai usaha menerapkan sosialisme, pada dasarnya sosialisme Marxis, dalam penciptaan karya sastra. Pertama-tama, di sini berarti keniscayaan akan adanya kaum lemah, proletar, yang berjuang membebaskan dirinya dari penindasan ekonomi kaum pemilik modal. Hal ini sebagaimana ditandaskan Pramoedya lebih lanjut, bahwa, “Ia merupakan bagian integral daripada kesatuan mesin perjuangan umat manusia dalam menghancurkan penindasan dan pengisapan atas rakyat pekerja.”

Tokoh Ranta adalah representasi dari sosok proletar dalam Sekali Peristiwa di Banten Selatan: “Tubuhnya tinggi lagi besar, penuh dengan otot-otot kasar, menandakan, bahwa ia banyak bekerja keras tapi sebaliknya kurang mendapat makan yang baik.” Mempertegas kelas sosial Ranta: “Sekarang ini mereka yang tentukan hidup kita, Ireng. Mereka!” atau “Ireng, kau ingat waktu anak kita yang pertama sakit keras, pinjam utang pada mereka? Anak kita meninggal. Panen seluruhnya mereka ambil. Kita kelaparan, terpaksa jual tanah. Mereka juga yang ambil tanah kita. Berapa harganya? Tak cukup buat modal dagang di pasar! Ludas! Tandas! Kuras!”

Sementara itu, Juragan Musa dengan karakteristik yang berseberangan:

“Kami kenal Juragan Musa. Dulu dia semiskin aku dan kami semua di sini. Zaman Jepang dia jadi wérek romusha. Barangsiapa pergi, disuruhnya kasih cap jempol. Ternyata cap jempol itu merampas tanahnya. Nah itulah cerita mula-mula dia jadi tuantanah. Dia mengangkat diri sendiri jadi Juragan. Itu belum semua. Kemudian orang-orang yang semiskin aku dipaksanya jadi pencuri!”

Sampai titik ini, Pramoedya telah memperlihatkan pertentangan tersebut. Namun dalam realisme sosialis, jika pertentangan kelas tersebut sebagai suatu kebenaran realitas, maka harus disadari bahwa dalam estetika Marxis dimana realisme sosialis menyandarkan dirinya, realitas itu harus dilihat sebagai suatu perkembangan dialektik, dan dialektik ini sendiri harus dimaknai dalam kerangka struktur masyarakat.

Kembali ke Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia, menurut Pramoedya, “Bagi realisme sosialis, setiap realitas, setiap fakta, cuma sebagian dari kebenaran, bukan kebenaran itu sendiri. Realitas tak lain hanya satu fakta dalam perkembangan dialektik.”

Dalam tradisi Marxis yang banyak dikenal, perkembangan dialektik itu dalam penerapannya atas sejarah masyarakat sering dilihat sebagai perkembangan pertentangan dua kelas dari masa ke masa: kelas penindas dan tertindas.

Ada upaya Sekali Peristiwa di Banten Selatan untuk melihat sejarah masyarakat dengan cara yang serupa, meskipun sebatas pada sejarah hubungan para tokohnya, terutama Juragan Musa dan Ranta. “Zaman Jepang apa? Romusha sampai kurus kering, sampai mampus. Zaman Nica apa? Lagi-lagi diuber-uber kena rodi, ditembaki saban hari. Sekarang apa? Diuber-uber DI. Itu belum lagi. Kawan-kawan kita sendiri sekarang sudah sama meningkat jadi juragan …”

Memang tidak secara spesifik terdapat perkembangan dialektik, tapi kita melihat ada kaum tertindas dari masa ke masa. Dialektika bisa kita dapatkan dalam tekanan kalimat terakhir: kawan-kawan kita sendiri sekarang sudah sama meningkat jadi juragan, suatu indikasi perubahan kelas sebagian orang, untuk berbalik menindas kelas yang ditinggalkannya.

Lebih jauh, Pramoedya dengan mengutip Gorky, menegaskan bahwa pendasaran realisme sosialis, pertama-tama, adalah penolakan yang tegas terhadap humanisme-borjuis. Terhadap humanisme-borjuis ini ia menjelaskannya sebagai, “menjurus ke arah anti-humanisme sama sekali, ke arah fasisme, ke arah kebinatangan dan melemparkan kedok humanismenya tanpa malu, dan dalam keadaan mata gelap melahap korbannya dengan tanpa malu-malu lagi.”

Dengan mudah, sikap kebinatangan ini bisa ditemukan dalam Sekali Peristiwa di Banten Selatan, merujuk ke tokoh Juragan Musa dan gerombolan pengacau DI (Darul Islam) di mana Juragan Musa menjabat sebagai residen. Dikisahkan bahwa tokoh ini, seorang tuan tanah kaya, meminjamkan uang kepada orang-orang miskin dan dengan cara licik menuntut pengembalian yang berlebih, membuat orang-orang miskin ini semakin melarat. Dalam keadaan terdesak, mereka disuruh oleh tokoh ini untuk mencuri bibit karet. Bukannya upah yang mereka terima, tapi cambukan dan ancaman. Ada memang uang panjar seringgit, yang tak ada artinya.

Ditandaskan secara verbal:


“Akhirnya, barangsiapa kuat, dia berubah menjadi binatang buas. Tiap hari dia mangsa hidup kita, rejeki kita, anak dan bini kita, kebahagiaan kita, semua-muanya. Binatang-binatang buas ini menarik diri, tidak mau bergaul dengan sesamanya. Mereka keluar dari sarang hanya untuk cari mangsa. Tapi bila sekali waktu binatang buas ini bertemu dengan binatang buas lainnya, kita semua disuruhnya membantu. Orang-orang lemah yang tidak bisa jadi binatang buas, barang ke mana pergi, dia tetap akan menjadi mangsa.”

Relasi struktural

Marilah kita sejenak menengok penulis yang sering menjadi rujukan Pramoedya. Dalam Chelkash, Gorky berkisah mengenai Grishka Chelkash. Ia seorang pencuri, pemabuk, yang hidup di seputaran kota pelabuhan di mana manusia “tampak sepele dibandingkan raksasa-raksasa baja, gunung-gunung barang dagangan, gemerincing lori dan segala sesuatu yang mereka sendiri telah ciptakan. Hal-hal yang mereka ciptakan telah memperbudak dan merampok kepribadian mereka.”

Dari sini sudah tampak bahwa perhatian utama Gorky, pertama-tama, adalah masyarakat kapitalis. Ia menggambarkan masyarakat demikian tak hanya dengan menciptakan karakter pemilik modal yang tamak dan menindas, sesuatu yang agak stereotif, namun juga memperlihatkan aspek pentingnya: mesin-mesin industri, komoditas, dan tentu saja ironi mengenai manusia yang diperbudak oleh ciptaannya. Sebagai kontras, Gorky biasanya menciptakan karakter gelandangan, pengembara, pencuri, atau orang-orang yang secara umum terpinggirkan sepenuhnya.

Dengan kata lain, dalam karya Gorky, sang tokoh biasanya tidak berhadapan dengan kapitalis sebagai persona, tetapi kapitalisme sebagai sistem. Ini sejalan dengan tendensi dalam filsafat Marxis yang melihat persoalan manusia sebagai persoalan struktur masyarakat. Maka alih-alih mengisahkan pertentangan seorang buruh menghadapi majikannya, Gorky cenderung memilih tokoh-tokoh antah-berantah, para pemabuk dan pencuri, gelandangan dan pengembara, yang jika kita andaikan, merupakan yang lebih sial bahkan dari para buruh. Merekalah kaum paria.

Kita akan sulit menemukan hal itu di dalam Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Antagonisnya adalah pengisap secara persona, dijelmakan dalam sosok Juragan Musa, tanpa tahu dalam sistem ekonomi macam apa ini terjadi. Ada kesan Juragan Musa seorang tuan tanah, tapi tak ada kesan bahwa Ranta sebagai penggarap tanah (sulit untuk mengatakan sebagai masyarakat feodal). Ada kesan bahwa Ranta adalah seorang pekerja yang diupah kecil oleh Juragan Musa, tapi tak ada kesan Juragan Musa sebagai seorang pemutar komoditas (sehingga juga sulit untuk dikatakan masyarakat kapital).

Selain mereka berdua, ada dua elemen sosial penting yang ditemukan dalam novel ini. Yang pertama kemunculan sosok Komandan, merepresentasikan militer secara umum. Yang kedua adalah DI atau Darul Islam, direpresentasikan sebagai gerombolan pengacau keamanan. Di sini, kita hanya menemukan fakta sederhana bahwa DI merupakan musuh masyarakat sebab apa yang mereka lakukan hanyalah membuat rakyat lebih menderita. Di sisi lain, Komandan dan para prajuritnya sebagai sahabat rakyat, yang membebaskan mereka dari kesengsaraan.

Akan tetapi, kita tak menemukan relasi-relasi struktural di antara mereka. Atau dengan kata lain, sosok-sosok ini kehilangan tempat dalam suatu sistem masyarakatnya, disebabkan ketidakhadiran sistem itu sendiri secara benderang. Dengan cara yang lebih sederhana, kita tak menemukan motif-motif kekacauan dan pemberontakan yang dilakukan oleh DI, misalnya, serta militer sebaliknya.

Padahal, dalam estetika Marxis yang ideal, relasi-relasi struktural ini menjadi sangat penting, sebab di sanalah terdapatnya pertentangan kelas-kelas. Barangkali perlu diingatkan bahwa, dalam filsafat Marxis, struktur masyarakat dilihat dalam dikotomi suprastruktur dan basis-struktur, di mana basis-struktur merupakan sistem ekonomi yang berlangsung dan memengaruhi aspek kehidupan yang lain. Dalam Sekali Peristiwa di Banten Selatan, kita hanya menemukan efek-efek akhir yang menyengsarakan dari suatu sistem ekonomi serupa “lewat jalan yang kita buat sendiri kita bayar pajak pada onderneming”, tanpa tahu bagaimana sistem ekonomi ini memaksa onderneming memungut pajak.

Sebagai perbandingan yang lain, misalnya, kita menemukan bagaimana sistem kolonialisme dijalankan, bahkan dalam skala yang kompleks, dalam Tetralogi Buru. Sesuatu yang tidak tampak di Sekali Peristiwa di Banten Selatan, bahkan dalam skalanya yang paling sederhana.

Lebih jauh, memang tampaknya bukan hal mudah untuk menerapkan realisme sosialis, atau estetika Marxis, atau bahkan filsafat Marxis, ke dalam karya sastra atau kerja kreatif lainnya. Tentu itu kerja tambahan untuk para penganjurnya, satu hal yang Pramoedya sendiri mungkin belum setengah jalan menjelajahinya.

Jejak Langkah Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer


Minke. 1901. Akhirnya mendarat di Betawi. Syukur, dia mendapat bea siswa untuk kuliah di S.T.O.V.I.A ! sekolah kedokteran untuk pribumi. Betapa beruntungnya. Tidak sampai disitu. Pada hari pertamanya di asrama, dia diundang ke gedung De Harmonie untuk bertemu dengan anggota Yang Terhormat Tweede Kamer ( Parlemen? ) Belanda. Amboy. 

Dan Jenderal Van Heutsz, panglima perang penakluk Aceh,  yang kelak menjadi Gubernur Jenderal Hindia. Demikian pentingkah seorang Minke sehingga diperlukan ikut dalam acara itu. Rupanya tulisan tulisannya dalam bahasa Belanda yang selama ini begitu sempurna - sehingga nyaris semua orang tidak percaya kalau yang menulis hanya seorang pribumi - menarik perhatian pihak Gubermen......Tapi bukan Minke kalau tidak berulah. Di sela sela kuliahnya dia menjalin hubungan asmara dengan guru Bahasa Inggris, seorang Tionghoa. Ang San Mei. Mereka bahkan menikah. Jadilah Minke orang kuliahan yang sekaligus seorang suami.

Itu terjadi sampai tahun kelima. Sampai sesuatu yang misterius terjadi. Mei tiba tiba menjadi aneh. Dia mulai berani meninggalkan suami, malam malam, tanpa penjelasan, dan berulang ulang. Selidik demi selidik akhirnya terungkap dia bagian dari jaringan organisasi internasional para Tionghoa yang berharap revolusi di tanah leluhur. Namun keterkuakan itu datang terlambat. Mei kelelahan dengan apa yang dilakoninya. Dia terkena penyakit kuning, dan meninggal. Kembali Minke menjadi duda. Belum sempat berduka, kabar kelam lainnya datang. Dia dipecat sebagai mahasiswa dan diminta mengembalikan uang bea siswa ke Gubermen!

Dikeluarkan dari sekolah kedokteran menjadi berkah terselubung buat Minke. Ia kembali menekuni dunia jurnalistik seperti minatnya semula. Di saat yang sama dunia mulai berubah. Jepang bangkit dan menang perang atas Rusia. Bangsa Asia bisa! semangat Jepang mulai menjalar ke anak anak muda China untuk mulai berorganisasi dan mengobarkan revolusi. Seorang dokter Jawa tua mengobarkan pentingnya berorganisasi bagi pribumi Hindia. Dan Minke menjawab tantangan itu.

Mula mula ia mendirikan Syarikat Priyayi, yang ternyata kurang berhasil. Namun ia berhasil mendirikan harian ' Medan ' yang tirasnya terus meningkat. Belum kapok, ia turut membidani lahirnya organisai modern ' Boedi Oetomo ' yang disambut lebih baik dari Syarikat Priyayi. Sementara harian ' Medan ' mulai mengalahkan harian harian yang dikelola orang Belanda.

Kerinduannya akan organisasi yang lebih ' Hindia ' dan merangkul semua kalangan membuatnya kembali membuat organisasi ' Syarikat Dagang Islam '. Tuah kata ' dagang' dan 'Islam' membuatnya dengan cepat menggucang Nusantara dan daratan Eropa. Pemerintah Gubermen mulai khawatir.....

Gubernur Jenderal Van Heutsz yang dekat dengan Minke digantikan Idenberg. Mulailah operasi rahasia untuk menghancurkan Syarikat Dagang Islam. Rumah tangga Minke yang menikahi Prinses Van Kasiruta, putri seorang raja Maluku, mulai diteror. ' Medan ' dibekukan, Minke sendiri ditangkap untuk dibuang ke Ternate. 

Roman sejarah yang memukau. Walaupun novel ini bukan buku sejarah, namun ia memberikan gambaran yang lebih jelas tentang aktor sejarah Budi Utomo dan Syarikat Dagang Islam dalam panggung sejarah pergerakan. Pramoedya seolah ingin menunjukan siapa sebenarnya sang Pemula, pelopor pergerakan modern kebangsaan yang kemudian dikenal dengan Indonesia......

Rumah Kaca Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer


“Betapa bedanya bangsa-bangsa Hindia ini dari bangsa Eropa. Di sana setiap orang yang memberikan sesuatu yang baru pada umat manusia dengan sendirinya mendapatkan tempat yang selayaknya di dunia dan di dalam sejarahnya. Di Hindia, pada bangsa-bangsa Hindia, nampaknya setiap orang takut tak mendapat tempat dan berebutan untuk menguasainya.” Kata-kata Pramoedaya Ananta Toer lewat Minke itulah yang merupakan peristiwa singkat namun jika diuraikan menjadi setebal roman Rumah Kaca ini.

Rumah kaca berisi arsip dokumentasi Minke, bagaimana jatuh bangun menghidupkan Medan Prijaji, surat kabar yang membela kaum pribumi. Medan prijaji dibredel oleh kekuasaan Hindia pada waktu itu, ketakutan akan huru-hara di kalangan rakyat pribumi membuat geram dan kalangkabut pemerintah Hindia. Melalui cara licik, Gubernur Jenderal melakukan usaha kolonial memukul habis semua kegiatan kaum pergerakan dalam sebuah operasi pengarsipan yang rapi. 
 
Dari cara-cara kekerasan melalui tangan bandit kecil—Rovert Suurhoof dan gerombolannya. Ia mengancam dan berlaku layaknya bandit, merusak barang-barang secara criminal, meneror, mengancam keselamatan Minke. Itulah yang dinamakan kekerdilan, yang melakukan usaha pelarangan intelektual dengan cara kekerasan. Hingga pada suatu hari, Minke di asingkan, karena usahanya di mata pemerintahan Hindia-Belanda sangat merugikan dari aspek ekonomi maupun hukum Hindia.

Namun Minke tak gentar, ia melawan hingga tak ada ketakutan kepada hIndia, lebih baik diasingkan namun merdeka daripada hidup nyaman tapi seperti budak.

Pram menggambarkan usaha Minke seperti ilmu ‘garam’, terasa meskipun tak terlihat, ia berbuat menurut hati burani membela keadilan, meskipun yang dibela tak memihaknya. Ia berjuang tanpa pamrih hanya untuk keadilan dan kemerdekaan hak pribumi yang diselewengkan. Sebaliknya pemerintahan Hindia seperti menerapkan ilmu ‘gincu’ yaitu terlihat jelas, namun tak ada rasanya, seperti memimpin pribumi dengan teori dan undang-undang namun praktiknya nol besar, bertolak belakang dari keadilan. Malah pejabat Hindia memperkaya diri. 
 
Tak heran pemerintahan Hindia tak bisa dipercaya oleh pribumi, karena tidak adil dan menganaktirikan pribumi dari ras eropa. Itulah sebabnya terjadi huru-hara di mana-mana. Hal itulah tampak jelas kekuasaan yang tidak didukung rakyat lama-laam akan tergulung ombak pemberontakan. Sebagai dalih kerusuhan, pemerintahan HIndia dengan licik mengambinghitamkan Minke sebagai dalang huru-hara maka dari itu, satu-satunya jalan adalah mengasingkan Minke—sungguh picik pemerintahan Hindia waktu itu.

Terlihat sekali, Pram mengritik habis-habisan pemerintahan Kolonial Hindia Belanda yang tidak becus mengurusi pemerintahan karena terjebak oleh pejabat korup yang melarikan diri ke luar negeri dan berfoya-foya menggunakan uang rakyat. Cara mengritik Pram terhadap pemerintahan Hindia yang menyeluruh, seperti tukang cukur yang menggunduli rambut pelanggannya, tak bersisa, halus mulus, dan meninggalkan kesan mendalam.

Dalam Rumah Kaca, Pramoedya ingin menghadirkan cara penyajian penceritaan yang tidak seperti biasanya ditemukan di tiga buku sebelumnya, Bumi Manusia sampai Jejak Langkah. Roman Rumah Kaca memperlihatkan Tuan Pangemanann—pejabat Gubernur Jenderal Hindia sebagai komandan yang memimpin pemboikotan usaha jurnalistik Minke di Medan Prijaji melakukan tugasnya, dengan cara mengumpulkan arsip dokumentasi apa saja yang dilakukan Minke. Tuan Pangemanann didorong oleh tugasnya sebagai seorang Pangemanann pejabat gubernur Jenderal, yang menyelidiki kasus Minke, mencari kesalahan Minke.

Namun kenyataannya tak semudah membalikkan telapak tangan untuk menyeret Minke ke meja pengadilan, meskipun Minke sudah diasingkan. Malahan ada pengalaman batin memilukan terjadi pada diri Tuan Pangemanann. Setelah membaca lembar-demi lembar arsip itu, Tuan Pangemannan berubah dalam cara berpikirnya. Ia mulai ketakutan sendiri, jangan-jangan bangsanya sendiri telah melakukan semua kebiadaban ini. Ketakutan itu mengundah rasa ingin tahu dan hari demi hari ia gunakan menyelidiki kasus Minke, dan mempelajari arsip tersebut. Ternyata dalam arsip itu tidak ditemuakn satu hal pun bermuatan provokasi massa atau ide-ide kriminalitas lainnya yang dituduhkan bandit Robert Suurhoof. Kebalikannya, nurani Tuan Pangemannan tersentak, netralitasnya muncul, jika ia melihat dari sudut pandangnya sebagai Minke, ia akan memposisikan sama halnya Minke, ia akan berjuang membela rakyatnya sendiri apa pun itu resikonya.

Namun ketakuatn akan jabatannya membuatnya luruh, ia kurang berani membela Minke di depan pejabat Gubernur Jenderal Hindia lainnya. Perasaan bersalahnya yang membuat Minke diasingkan membuatnya bertindak sesuatu, yaitu menyerahkan arsip ini kepada guru agung Minke, yaitu Nyai Ontosoroh yang sudah beralih warga negara Perancis, menjadi madame Sanikem Le Boucq. Hal itu dilakukan sebagai bentuk “penebusan dosa” terhadap Minke yang rela berkorban demi bangsa dan tanah airnya sendiri malah diasingkan, dibuang begitu saja. Arsip itulah yang kemudian dicetak menjadi buku judulnya Rumah Kaca ini.

Pramoedya sungguh menarik meramu cerita dengan gaya penceritaan dari sudut pandang Tuan Pangemanann, semua diceritakan apa adanya menurut bukti yang ada di arsip tersebut. Detail dan rinci salah satu kekhasan penulis dalam menulis Rumah Kaca ini, intrik jahat kolonial hindia diberitakan dengan penuh ketegangan, alur cinta yang anggun, abadi meskipun dari bab Bumi Manusia hingga Rumah Kaca kita sebagai pembaca, dihadapkan oleh “kekalahan petualangan cinta” seorang priyayi setampan Minke yang berakhir tragis namun pengalaman manis meninggalkan kenangan ketulusan cinta kepada wanita-wanitanya. Perjuangan Minke dalam membela pribumi tercermin dalam Rumah Kaca. Dan hingga buku ini dicetak dan menjadi sumber bacaan yang mencerahkan bagi masyarakat pribumi.

Dan juga kepada bangsa Hindia yang menolak perjuangannya, bangsa Eropa yang menutup mata terhadap pribumi dan perjuangan Minke hingga ia diasingkan, tak ada yang menolongnya. Meski demikian, dari itu semua, terkandung hikmah yang mendalam. Benar kiranya apa yang diucapkan Pramoedya Ananta Toer kali ini,” Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles—Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa, dan Naikkan yang Terhina–.Buku ini, sekali lagi cocok untuk dibaca bagi mereka yang mencari jati diri menurut kebenaran. Sastra, politik dan hukum ada di dalam buku ini. Tidak memandang mereka politikus, presiden maupun mahasiswa dan rakyat. Siapa pun yang bisa membaca, hendaklah membaca karya ini. Karena karya yang menghibur itu banyak—seperti kacang–. Namun karya yang mencerahkan rasa naisonalisme bisa dihitung dengan jari. Sekarang terserah pembaca, mau pilih membaca yang mana.

Bumi Manusia Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer


Penjajahan hampir selalu diartikan dengan penjarahan kekayaan oleh suatu bangsa terhadap bangsa lain. Penjarahan suku Maya oleh bangsa Spanyol. Penjarahan Nusantara oleh Belanda, sehingga mereka bisa membangun Roterdam yang luar biasa itu. Tetapi ada jenis penjarahan yang lebih dahsyat. Itu menyangkut penjarahan sosial dan budaya. Penduduk Indonesia kala itu diklasifikasi dalam kelas kelas sosial yang berbeda. 

Hasilnya adalah kepedihan pribumi yang dengan menusuk di angkat Pramoedya dalam Bumi Manusia.

Minke. Pribumi asli, namun karena keturunan ningrat Jawa diperbolehkan bersekolah di HBS Surabaya. Hanya dia pribumi totok yang bersekolah disana. Selebihnya adalah warga negara kelas 1, orang Eropa, kelas 2 : Indo dan Tionghoa. Karena pertemanan di sekolah, dia berkesempatan berjunjung ke sebuah rumah Tuan Belanda, Herman Mellema. Sebuah Kunjungan yang merubah hidup Minke selamanya. 
Buku ini merupakan buku pertama dari tetralogi pulau buru atau tratolgi bumi manusia. Kebanyakan kritikus beranggapan tetralogi inilah sebagai masterpiece Pramoedya.

OK. Kita lanjut. Tak dinyana, Noni belanda, Annelies Mellema, putri sang tuan rumah jatuh cinta pada Minke. Cinta sang putri  mendapat dukungan dari sang bunda, Nyai Ontosoroh. Minke memasuki kehidupan keluarga itu, bahkan dipersilahkan untuk tinggal seatap dengan mereka. Dan terjadilah hal hal pelik dalam hidupnya.

Tentangan pertama datang dari keluarganya sendiri yang tak sudi Minke tinggal dalam rumah seorang Nyai, yang berarti gundik seorang Tuan Belanda. Ayahnya tak mau mengakui anak lagi. Bencana kedua datang dari pihak sekolah yang karena alasan moral memberhentikannya sebagai siswa. Tetapi bencana sesungguhnya datang dari sepucuk surat dari pengadilan Belanda. Seusai kematian Herman Mellema yang misterius di rumah pelesiran Ah Tjong. Anak Mellema dari istri Belandanya menggugat harta kekayaan yang dengan susah payah dipelihara dan dikembangkan Nyai Ontosoroh. Sebagian besar berupa perusahaan peternakan sapi dan susu olahan. 
Bukan perusahaan kecil, asetnya besar.

Bukan itu saja. Annelies yang telah dinikahi Minke secara syah, harus memenuhi panggilan pengadilan untuk ‘kembali’ ke tanah leluhurnya, Belanda. Sebuah tindakan yang jauh dari rasa keadilan. Penjajahan, pengkelasan, telah menghancurkan sebuah cinta dan mahligai rumah tangga. Bangsa jajahan memang dinistakan. Mereka adalah inlander. Statusnya kurang lebih sama dengan anjing.

Jalan Raya Pos Jalan Daendels Pramoedya Ananta Toer

Sebuah buku adalah sebuah kesaksian. Dan buku ini adalah kesaksian tentang peristiwa genosida kemanusiaan paling mengerikan di balik pembangunan Jalan Raya Pos atau lebih dikenal dengan Jalan Daendels; jalan yang membentang 1000 kilometer sepanjang utara pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Inilah satu dari beberapa kisah tragedi kerjapaksa tebesar sepanjang sejarah di Tanah Hindia.

Pramoedya Ananta Toer lewat buku ini menuturkan sisi paling kelam pembangunan jalan yang beraspalkan darah dan airmata manusia-manusia Pribumi. Pemeriksaan yang cukup detail dan bersorak tuturan perjalanan ini, membiakkan sebuah ingatan yang satire, bahwa kita adalah bangsa yang kaya tapi lemah. Bangsa yang sejak lama bermental diperintah oleh bangsa-bangsa lain.

Satu lagi buku yang menguak sejarah tragedi terbesar terkoyaknya kita sebagai bangsa yang kawasannya luas, kaya, tapi selalu kalah dalam segala hal.

***

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqeIpNZLmMiHGyaXTk_j0qxJNJDJYLPXwoBCw_TkYPReMIq6SJ3fxEDx5ey9Jko5iv1VXljTwbeRaZ1dD-iXX3Nj8oT8iWpcdud47QYK4n3zO1qWnP3bh4dtelBGPA7ewBJpcFx_Bgp0IT/s320/jalan_raya_pos_b.jpg

Menyelesaikan buku ini adalah perjuangan. Sebenarnya buku ini adalah buku wajib saya di bulan Februari, tapi baru saya selesaikan pertengahan Maret. Padahal bukunya tipis saja dan biasanya untuk buku setipis ini saya tidak membutuhkan waktu lebih dari tiga hari.

Mungkin karena buku ini tidak seperti perkiraan saya yang mengharapkan  karya fiksi seperti halnyat etralogi Pulau Buru. Ternyata buku ini  adalah buku non-fiksi yang lebih seperti text book sejarah. Apakah menarik? Entahlah, untuk saya, sepertinya agak nanggung. Ups? Siapa saya berani mengkritik Pramoedya? Well, this is all what I feel when I read it T.T

Buku ini membawa kita menyelusuri kota-kota yang dilewati oleh Jalan Raya Pos yang dibangun oleh Daendels, dari Anyer sampai Panarukan, membentang sepanjang 1000 km. Tentu saja riset yang dilakukan Pramoedya sangat kuat dan informatif, tapi semua informasi tambahan itu seakan menenggelamkan peristiwa pembangunan Jalan Raya Pos itu sendiri. Seakan Pramoedya bebas saja memasukkan informasi apapun mengenai kota-kota yang ia bahas. Informasi itu bisa saja tentang masa penjajahan Portugis dan Spanyol, penjajahan Belanda (tidak terbatas pada masa Daendels), sampai masa perjuangan kemerdekaan, Orde Lama, bahkan orde baru. Saya agak terganggu dengan hal ini karena menurut saya agak  tidak fokus dan mengaburkan tema semula.
 
Memang saya mendapat banyak informasi tentang sejarah kota-kota yang dilalui Jalan Raya Pos. Kalau buku ini memang mau sebatas menyusuri kota-kota sepanjang Jalan Raya Pos, saya kira itu tidak masalah. Tapi saya tidak menangkap isu genosida yang disampaikan sejak awal, kecuali informasi mengenai  jumlah orang terbunuh. Jujur saja, saya mengharapkan buku ini fokus pada kisah tentang pembangunan Jalan Raya Pos itu sendiri, peristiwa-peristiwa atau polemik apa yang terjadi ketika jalan itu dibangun. Sesuatu yang bisa membuah hati kita sakit karena penderitaan para pekerja paksa pada saat itu.

Saya sebenarnya penggemar buku Sejarah, itu adalah mata salah sau masa pelajaran favorit saya di sekolah dulu. Tapi, saya agak capek membaca buku ini. Mungkin seperti perasaan di masa sekolah muncul lagi, ketika kita harus membawa textbook wajib tanpa menikmatinya. Ketika halaman terakhir sudah dilewati, saatnya menghembuskan nafas panjang dan beristirahat sejenak.

Midah Simanis Bergigi Emas Pramoedya Ananta Toer

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnnjrlZQuvOoE32_YOkr9Tws4amBXfgbHHLRAu7A8LHpsCQ4V1slfzr0gzQXwakx4DAxOWpfLGAd9_za218B-9k48cEUnW5OI5AsEDtC0neMPCW8_YIkUkFLqotJy5-JAZxo15FXQ1cY4U/s1600/Midah+Si+Manis+Bergigi+Emas.jpg

Ini adalah novel ringan. Ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer pada tahun 50-an dengan setting tempat Jakarta. Novel ini menjadikan perempuan sebagai tokoh utamanya. Nama tokoh itu adalah Midah. Pendek sekali namanya. Hanya Midah. Kulitnya kuning, wajahnya agak bulat, senyumnya manis sekali membuat para Lelaki jatuh hati kepadanya, cantik parasnya, lentik suaranya, dan kuat hatinya.

Midah dilahirkan di tengah keluarga yang taat beragama. Hadji Abdul nama ayahnya. Fanatik terhadap musik-musik berbau Arab. Umi kalsum yang menjadi penyanyi favoritnya sampai ketika usia 9 tahun kehidupan Midah sangat enak. Ia dimanja dan dipangku-pangku. Karena memang ia anak tunggal. Situasi berubah ketika Midah mempunyai adik yang mulai membanyak. 

Dirumah ia sudah mulai disepelekan. Perhatiaan bapaknya sudah sepenuhnya kepada adik-adiknya. Ia tak lagi dipangku-pangku. Ia tak lagi ditemani ayahnya untuk mendengarkan lagu Umi Kalsum. Midah sekarang seperti terkucil di rumahnya. Adik-adiknya telah merampas semuanya. Karena tidak bertah, Midah sering keluar rumah dan biasanya pulang sore atau bahkan malam hari. Begitu seterusnya. Tapi orang tuanya seakan tidak perduli dengan dirinya. Situasi tidak berubah sama sekali. Ini makin membetahkan midah untuk bermain-main dijalanan. Di jalanan itulah Midah terpikat dengan pengamen keliling. Terutama lagu-lagu keroncong yang mereka bawakan. Midah senang sekali dengan keroncong. Ia ternyata sudah bosan dengan Umi Kalsum. Dibelinya beberapa piringan hitam keroncong. Sesingkat itu Midah sudah hafal semua isinya. Saat itu lah ia kepergok ayahnya. Ia dihajar habis-habisan gara-gara mendengarkan lagu haram dirumah. Diantara rasa takut berkecamuk di hati, Midah menyimpan benci kepada ayahnya. Ibunya juga tak bisa berbuat apa-apa. Dihadapan ayahnya ibu nya tak mempunyai kekuatan.
 
Sampailah suatu hari ketika ayahnya ingin menikahkan Midah dengan laki-laki pilihan ayahnya. Dan syaratnya laki-laki itu berasal dari Cibatok, desa ayahnya, berharta, dan taat beragama. Setelah tiga bulan perkawinan, Midah lari dari suaminya, Hadji Terbus, dengan membawa beban hamil karena tahu bahwa Hadji Terbus memiliki banyak istri. Ia tersesat ditengah ramainya jalanan Jakarta tahun 50-an.

Dalam pelarian inilah Pramoedya menggambarkan perempuan muda ini begitu kuatnya untuk beertahan hidup. Perempuan yang tidak mudah menyerah dengan kerasnya Jakarta. Walaupun ia hanya menjadi penyanyi dengan panggilan simanis bergigi emas dalam kelompok pengamen keliling dari satu resto ke resto lainnya, bahkan dari pintu ke pintu rumah warga. Dengan kandungan yang semakin membesar dari hari kehari, Midah memang tampak kelelahan. Tapi manusia tidak boleh menyerah pada kelelahan. Hawa kehidupan jalanan yang liar dan ganas harus diarungi. Dan kita tahu Midah memang kalah secara moral dalam pertaruhan hidup itu, menjadi penyanyi sekaligus pelacur.

Pramoedya, lewat novel ringan ini, memperlihatkan ketegangan antara jiwa seorang yang humanis dan moralitas. Disatu sisi Pramoedya ingin menegaskan kekuatan seorang perempuan berjiwa dan berpribadi kuat melawan ganasnya kehidupan. Seorang perempuan yang tak mudah ditaklukan oleh apa pun. Tapi di sisi lain ingin memperlihatkan kebusukan kaum moralis lewat tokoh Hadji Trebus, juga Hadji Abdul yang hanya rajin zikir tapi miskin citarasa kemanusiaan. Dan juga serakah.
Dan pada akhirnya sejarah Midah Simanis bergigi emas mulailah dari sini sebagai penyanyi.

Sejarah Midah Simanis bergigi emas telah lenyap, sebagai wanita.

Alur yang digunakan dalam Novel ini adalah alur maju, karena menceritakan tentang kehidupan Midah.

Setting yang digunakan dalam novel ini dapat membuat pembaca ikut terhanyut kedalam cerita, tentang perjuangan seorang wanita menghadapi kerasnya kehidupan.

Pemaparan watak tokoh dalam novel ini sangat jelas , Midah mempunyai watak yang tabah, kuat serta keras kepala.

Sudut pandang orang pertama yang digunakan dalam novel ini mendukung keseluruhan isi cerita menjadikan novel ini seolah-olah hidup.

Novel ini sarat dengan amanat bahwa kita jangan mau kalah dengan kerasnya kahidupan. Jika mau berusaha Tuhan pasti akan membukakan jalan.

Kekuatan dari novel ini secara keseluruhan adalah novel ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Novel ini mengajarkan tentang ketabahan hidup dikerasnya Ibukota Jakarta.

Kelamahan dari novel ini diakhir cerita Midah jatuh juga kedalam pergaulan bebas di Jakarta.

Cerita Calon Arang Pramoedya Ananta Toer

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPAdqF-22zP1KmG35WEgC-LNuY16uAa-aheyfMb2MvlHvV-oJqgDlJ3BxjDDCL16ZF87seZim2ATXfNKGGKkXB24a_oBwyOJfa9o6EBZrx6rmRDES1dreeGydxZyoM4E_APggr_8M0l3A7/s1600/Cerita+Calon+Arang.jpg

Cerita calon arang, Perempuan tua yang hidup bersama dengan satu-satunya anaknya. Ia telah lama hidup disebuah desa bernama desa Girah, disebuah negara Daha yang dipimpin oleh Sri Baginda Erlangga. Desa itu aman sekali kala itu. makmur dan rakyatnya tercukupi atau sejahterah. Hingga tiba saat kejadian yang membuat desa Girah menjedi berubah, bahkan orang-orang didalamnya.

Dendam yang disimpan lalu membatu. Perempuan tua itu, ia biasa dipanggil Calon Arang. Dikarenakan perilaku dan sikapnya, putri Calon Arangpun tak pernah dipinang-pinang oleh seorang laki-laki manapun. Akhirnya rasa benci calon arang pun membatu. Sedangkan putri semata wayangnya yang bernama ratna mangali menunggu pria yang siap melamar dan berani menerima kenyataan. Hingga tak disangka-sangka bencana pun datang dikarenakan dendam si calon arang, atau biasanya dipanggil warga desa Girah sebagai penyihir tua yang menggerikan.

Pekerjaan yang sungguh picik kala itu. dengan membunuh perlahan tampa langsung membunuh. Menyebarkan penyakit ganas di desa girah. Hingga membuat banyak mayat setiap harinya yang berserakan. Lalu kejadian tak sampai disini. Tak ada yang berani melawan murka Calon Arang. Sri baginda rajapun tak tau atau menentukan apa yang harus dilakukan pun tak tau bahkan tak mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Binggung mengatasi permasalahan ini.

Sampai munculah seseorang yang berani dan mau meminang putri dari calon arang yang bernama ratna mangali. Yaitu empuh bahula murid dari empu baradah yang diutus sri baginda erlangga untuk menghadapi calon arang.

Girang sekali calon arang putrinya dilamar seorang empu bahula murid dari empu baradah. Hingga lalai. Empu bahula pun lama-kelamaan sudah berani memancing-mancing ratna mangali untuk memberi tahu rahasia ibunya yaitu calon arang. Namun hal itu sia-sia, empu bahulapun tertangkap basa oleh calon arang karena menanyakan hal itu pada ratna mangali. Sampai akhirnya empu bahula bilang kepada gurunya empu baradah lalu langsung empu baradah mendatangi calon arang yang sudah muter-muter mencari empu bahula. Di datangi oleh empu baradah dan orang-orang yang sudah dihidupkan oleh empu baradah yang dulunya adalah korban dari keganasan calon arang. Sampai calon arang pun mati dengan dosa yang berjubel atas serangan empuh baradah.

Tapi dengan niat baik empu barada pun menghidupkan kembali calon arang dan mensucikanya sebelum ia meninggalkan dunia.

Etikat baik empu baradah pada calon arang adalah sebuah perbuatan bahwa manusia harus bisa saling memaafkan seberapapun kesalahannya. Pesan persaudaraan yang terkandung, pemerintahan bahkan sampai penyelsaian atas sebuah permasalahan walaupun banyak hal yang harus di korbankan tapi toh semuai itu dapat dikembalikan seperti biasanya waupun semua yang diawal tak bisa di kembalikan dengan sama persis, kisah dendam yang membatu hingga proses yang lama semua itu akhirnya terselsaikan dan menjadi sebuah catatan sejarah.

Cerita Calon Arang adalah novel kesembilan yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Buku ini terinspirasi oleh legenda atau dongeng yang pernah ditulis di tahun Saka 1462. Buku Cerita Calon Arang ini pertama diluncurkan pada tahun 1957. Dongeng yang ditulis sangat berebeda dengan dongeng dongeng yang lain. Dongeng terkenal dengan keromantisan dan kehalusan dari sebuah cerita. Namun, kali ini, buku yang ditulis Pramoedya Ananta Toer ini sangatlah jauh dari halus dan romantis.

Nama-nama karakter yang dipakai di buku ini juga merupakan tokoh tokoh bersejarah yang mempunyai pengaruh besar dalam sejarang kerajaan Hindu di Jawa. Seperti Empu Baradah, Empu Baradah adalah seorang pujangga atau pendita yang hidup di masa Raja Airlangga berkuasa di Jawa Timur ditahun 1019 sampai 1042 Masehi. Saat pertama melihat sampul buku ini mungkin tidak akan langsung tertarik untuk membaca bukunya. Namun, dengan gaya ceritanya yang unik, penulis buku ini bisa memikat banyak pembaca untuk membaca bukunya.

Cerita yang terdapat pada buku cerita calon arang ini dimulai dari kisah seorang janda jahat yang bernama Calon Arang. Dia tinggal disebuah dusun yang bernama dusun Girah di negara Daha. Wanita ini berprofesi sebagai tukang teluh. Kerjanya setiap harinya hanyalah menganiaya, membunuh dan menyakiti sesama manusia dengan ilmu ilmu hitamnya. Ia mempunyai anak yang cantik bernama Ratna Manggali. Namun, tidak ada yang berani mendekatinya karena semua orang takut pada ibunya yang kejam. Karena itulah, Calon Arang mulai merasa kesal karena anaknya belum mendapatkan pasangan hidupnya. Kekesalannya pun menjadi sebuah malapetaka. Dia meminta tolong dengan Dewi Durga untuk membantu dia memusnahkan seluruh negara Daha dengan cara menyebar penyakit yang mematikan ke seluruh negara.

Di salah satu dusun di negara Daha, tepatnya di dusun Lemah Tulis, juga tinggal seorang Pertapa, dia adalah seorang empu. Empu Baradah namanya. Empu Baradah adalah orang yang saleh dan taat pada agamanya. Semua orang hormat dengan nya. Dia juga mempunyai anak perempuan dan seorang istri. Beda dengan Ratna Manggali, anak Empu Baradah, Wedawati, adalah anak yang ramah dan juga dihormati oleh penduduk sekitar. Namun, pada suatu hari, ibu Wedawati jatuh sakit lalu meninggal. Empu Baradah pun menikah lagi karena dia mengira kalau dia menikah lagi dia bisa menghapus kesedihan Wedawati atas kepergian ibunya. Setelah menikah, Empu Baradah dan istri barunya dikaruniai seorang anak lelaki. Lalu, Empu Baradah pergi bertapa bersama murid-muridnya. Dikhianatilah Wedawati dan akhirnya Wedawati keluar dari asrama dan pergi ke kuburan ibunya. Wedawati sangat tertekan dan ia ingin sekali ikut ibunya mati.

Setelah itu, Calon Arang mulai menjadi ganas. Ia dan murid muridnya mendapatkan ide untuk menyiksa penduduk desa dengan cara yang bermacam-macam. Semua orang akan mati kalau berani membuat kegaduhan bagaimanapun caranya. Kepala Dusun mati karena tanahnya dirobohkan Calon Arang. Satu muridnya pernah membunuh anak yang sedang bermain. Setelah membunuh, urid-muridnya mandi dengan darahnya. Penyakit mematikan itu sudah merajalela. Kekacauan yang dibuat oleh Calon Arang pun dilaporkan ke Raja Erlangga. Raja Erlangga adalah orang yang sangat bertanggung jawab dan sangat peduli dengan masyarakyat-masyarakyatnya. Dia coba berunding dengan para pejabat dari negara itu tentang apa yang harus mereka lakukan setelah itu. Raja akhirnya memutuskan bahwa Calon Arang harus dibinasahkan. Dia kirim tentara-tentaranya untuk membunuh Calon Arang. Namun, mereka pulang dengan kabar buruk. Ilmu hitam Calon Arang tidak bisa dikalahkan dan tiga dari tentara yang mencoba membunuhnya mati. Sri Baginda putus asa kemudian, Sri Baginda dan prajuritnya mendatangi sebuah candi untuk memuja dewa dewa agar mereka bisa memberi petunjuk. Diberikanlah petunjuk dari dewa untuk menemui Empu Baradah.

Sri Baginda memerintahkan kanduruan untuk bertemu dengan Empu Baradah. Saat bertemu denganya, dia menceritakan kekacauan yang disebabkan oleh Calon Arang dan memberi usulan Ratna Manggali menikahi salah satu murid Empu Baradah untuk mencari tahu rahasia Calon Arang. Calon Arang merasa senang ada yang ingin menikahi anaknya. Lalu, dia membuat pesta besar-besaran untuk pesta pernikahannya. Setelah menikah, Empu Bahula menanyakan rahasia rahasia Calon Arang kepada anaknya. Dia juga meminta tolong pada Ratna untuk menggambilkan kitab yang dipakai Calon Arang. Rencana Empu Baradah ini berhasil. Pada akhirnya, Empu Baradah bertemu dengan Calon Arang dengan satu tujuan ya itu membunuhnya. Saat bertemu dengan Empu Baradah, Calon Arang ketakutan dan meminta Empu Baradah unuk mesucikan dirinya. Tapi Empu Baradah enggan melakukan hal tersebut. Calon Arang marah dan mencoba untuk membunuh Empu Baradah dengan mantra-mantranya. Namun gagal. Empu Baradah pun akhirnya memusnahkan Calon Arang dan akhirnya, dia pun mati. Negara Daha menjadi aman dan Empu Baradah dan Wedawati pergi bertapa.

Buku ini juga mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing masing. Kelebihan dari buku ini adalah ceritanya yang sangat menarik dan menengangkan yang bisa membuat orang tertarik membacanya dengan gaya cerita yang juga menarik.Gaya cerita sipenulis seperti membacakan dongeng kepada anak anak kecil karena memang buku ini dibuat untuk anakanak. Tetapi, kekurangnya adalah bahwa buku ini dibuat untuk anak-anak tetapi kata-kata yang dipakai didalam buku ini bisa menjadi sangat rumit. Bagian bagian dalam buku ini juga tidak pantas untuk menjadi cerita anak anak. Secara kesuluruhan, buku ini sangat bagus.

Dari buku cerita ini kita bisa belajar bahwa semua kejahatan pasti kalah terhadap kebaikan bagaimanapun caranya. Kejahatan tidak akan selalu menang dan kebaikan lah yang mampu mengalahkan kejahatan. Mungkin buku ini ditulis hanya sekedar untuk kesenangan seorang pemabaca. Buku ini sangat sederhana dan layak dibacanya untuk orang di usia apa pun.